Sabtu, 02 Juli 2011

Asuransiku

Tahun 2000 ketika masih bekerja adalah pertama kalinya saya berkenalan secara langsung dengan dunia asuransi. Ketika itu seorang agen Asuransi Takaful mendatangi kantor saya di bilangan Kalibata Jakarta Selatan. Setelah mendapat penjelasan tentang berbagai produk akhirnya saya membeli Asuransi Pendidikan untuk Alda anakku yg saat itu berumur 3 tahun. Saya membeli asuransi dengan premi 1 jt/thn selama 15 thn krn gaji kami berdua saat itu baru 3jt/bln. Ketika Alda akan masuk SD keluar 1jt, SMP 2,5 jt, SMA 4 jt dan ketika masuk kuliah keluar semua senilai 18 jt. Saya pikir lumayan juga karena pada waktu saya masuk kuliah thn 1991 hanya mengeluarkan uang 300 rb. Pada saat itu saya sama sekali berfikir adanya inflasi dan perubahan sistem penerimaan mahasiswa baru seperti saat ini.

Asuransi kedua yang saya beli adalah asuransi jiwa Bumiputera untuk, premi 260 rb/thn selama 10 thn dengan uang pertanggungan 30 jt. Sebenarnya saya tidak berminat untuk membeli asuransi ini krn saya pikir sdh punya aspen. Saya membeli krn tidak enak hati sebab agennya adalah suami dari guru TK Alda.

Asuransi ketiga yang kami beli adalah asuransi kesehatan Multiguna Bumiputera pada tahun 2008, premi 500 rb/bln setelah 10 thn uang akan kembali sebesar 50 jt dan UP 50 jt. Suami pernah mengklaim pada tahun 2010 pada saat diopname karena sakit Hepatitis . Asuransi ini saya tutup pada tahun 2011 setelah berjalan 3 tahun dan saya sdh menyetor uang sebesar 18 jt.  Asuransi ini kami tutup bulan april 2011, saat ini sedang menunggu kembalian sebesar 13 jt ( semoga tidak dikurangi lagi).

Asuransi keempat yang kami beli adalah asuransi kesehatan Bumida untuk kami sekeluarga (3 org) dengan premi 1,5 jt/thn dan UP kalau sakit dan rawat inap ada pertanggungan 500rb/ hari dengan platform maksimal penggantian 90jt/th. Meskipun tidak semua sakit dicover , lumayan untuk jaga-jaga kalau sakit. Asuransi ini berjenis tradisional sehingga premi yang telah kami bayarkan akan hangus bila  jatuh tempo (1 tahun). Masa pertanggungan yang di perbarui setiap tahun dengan membayar premi baru.

Asuransi kelima yang kami beli pada Maret 2011 adalah BNI Life Dana maksima dengan premi 2jt/3bln dan UP 70 jt. Produk ini adalah Unit Link yaitu gabungan antara asuransi jiwa dan investasi di Reksadana Saham. Pada tahun pertama 50% utk premi asuransi dan 50% lagi di investasikan pada Reksadana Saham.  Asuransi ini kami tutup bulan Mei 2011 dengan pengembalian uang Rp 1.195.300 senilai pengembangan investasi di RDS selama 2 bln.

Asuransi keenam yang kami beli pada April 2011 adalh Asuransi Jiwa Termlife utk suami krn saya tidak bekerja, premi 1,7 jt/thn dengan UP 350 jt. Saat ini kami sudah berketetapan untuk memisahkan asuransi dan investasi.

Sabtu, 11 Juni 2011

My Rich Dauhgter

Kebahagiaan saya sebagai orang tua ketika melihat anak saya lebih sukses di banding ortunya ketika saya seusia dia. Saya sangat terharu mengetahui anak gadis kecilku sudah bisa menabung uang untuk membeli kamera DSLR (4 jt), Springbed (1,7 jt), dan membayar sebagian kawat giginya (3 jt), belajar jualan makanan kecil di sekolah agama serta jualan pulsa pada ortunya serta tertarik pada investasi di bidang reksadana.

Hasil yang anak saya capai ini memang melalui perjalanan panjang sejak dia lahir (30 Des 1997). Sejak kecil kami berdua menanamkan pada dia untuk hanya mengambil satu bila di beri atau meminta sesuatu. Kami mengajari dengan penuh kasih pada dia cukup dengan 1 makanan di tangan atau 1 mainan atau apapun juga. Saya pernah di marahi oleh kakek dan neneknya krn mereka ingin memberi sebanyak mungkin segala hal utk cucu pertamanya. Tapi untungnya anak saya tetap kekeh mengambil satu walaupun tidak ada kami ortunya. Dampak baik dari ajaran yang kami terapkan adalah anak kami sangat senang berbagi apa saja yang dia punyai pada teman-temannya. Dan bersyukurnya kami anak saya juga mendapatkan teman-teman yang tidak suka merebut mainan. Mereka bermain dengan sangat akur dan sangat jarang saya mendengar mereka berebut mainan. Mungkin ini adalah karunia dari Allah SWT krn anak-anak terlahir dlm keadaan fitrah.

Mulai umur 4 tahun ketika dia mulai masuk playgroup kami membiasakan dia untuk mengenal uang dengan cara membiarkannya jajan sendiri.

Ketika anak saya kelas 4 SD (2007), saya membaca buku "Melejitkan Kecerdasan Finansial Anak Anda" karangan David Owen. Saya memutuskan tdk memberi dia uang jajan harian dan menggantinya menjadi mingguan. Dalam minggu pertama uang jajannya habis dalam waktu 4 hari, krn masih latihan uang utk 3 hari saya ganti dgn jumlah lebih kecil. Dengan mengalami langsung betapa susahnya kalau tidak bisa mengatur uang pada minggu berikutnya uang jajannya cukup untuk 1 minggu tanpa ada sisa. Setelah berjalan sebulan dia sdh mulai bisa menyisihkan uang jajan dan menaruhnya di celengan. Hal ini berlangsung terus dan berlaku untuk uang yang di beri oleh kakek dan nenek atau saudara ketika lebaran tiba, ulang tahun atau lainnya. Untuk sementara dia menitipkan ke saya dan menghitung jumlah uang yang sudah terkumpul. Saya membiarkan dia beli apa saja yang dia mau dari uang yang dia kumpulkan. Pada pertengahan kelas 5 (2009) dia minta pada Bapaknya utk membukakan rekening tabungan di Bank. Bersama Bapak dia membuka tabungan junior di sebuah Bank swasta dekat rumah.

Setelah mempunyai rekening di Bank dia sangat senang dan bertambah rajin menabung. Terkadang dia pergi sendiri ke Bank untuk menabung. Terlebih setelah kelas 6 SD dia mulai belajar berjualan makanan kecil di Madrasah Diniyah dan di rumah juga dengan semangatnya membantu teman mencari barang bekas untuk di jual ke pengepul.

Setelah masuk SMP (2010) saya mulai memberi dia uang jajan bulanan. Saat ini dia tetap senang berjualan, tetapi terkendala oleh waktu krn jadwal sekolahnya fullday. Untuk sementara dia berjualan pulsa pada orangtuanya sambil mencari peluang bisnis lain.
Pada periode ini dia mulai tertarik pada investasi di reksadana karena melihat kami juga berinvestasi di reksadana. Sekarang dia mulai merubah tabungannya ke reksadana saham dengan cara top-up setiap 6 bulan. Saya berharap dia akan menjadi seorang yang mempunyai biro arsitek sendiri sesuai dengan bakatnya.

Minggu, 23 Januari 2011

Keyboard

Alhamdulillah di pinjami Tante Lina keyboard untuk waktu yang tak terbatas, trims banyak Tanteku yang cantik. Mas Win langsung beli VCD belajar piano, di samping itu juga belajar memainkan lagu-lagu yg sudah bisa karena dulu pernah belajar gitar. Ternyata lagu-lagu Indonesia susah banget not nya, melihat di internet akhirnya ada lagu Groovy Kind Of Love yang lumayan gampang.

Alda juga sering latihan dari lagu-lagu yang dia sudah hapal, tapi masih sering main-main. Yang begitulah Alda sukanya masih belum serius, suka aku godain kayak si June dan Alicia di serial Malory Towersnya Enid Blyton. Tapi masih mending daripada aku yang bisanya cuma lagu Ibu Kita Kartini. Sepertinya di antara kita bertiga yang paling berbakat main keyboard si Bapak.

Menurut Mas Win, main piano itu sebaiknya sejak kecil karena kalau sudah dewasa tangannya kurang lemas, bagus juga untuk melatih harmonisasi.

Belajar Jahit

Lagi ingin belajar jahit supaya bisa jahit baju sendiri.Selain utk menghemat uang krn makin lama makin mahal ongkos jahit, juga sekarang waktu pengerjaan semakin lama. Memang ada juga penjahit yg ongkosnya murah dan cepat tetapi sering mutu jahitannya kurang bagus. Saya sudah punya penjahit langganan yg murah dan bagus tetapi untuk jahit 1 atasan aja mesti nunggu sebulan, kadang lebih.

Karena hal itu maka saya ingin bisa jahit, langkah pertama mungkin beli mesin jahit dulu. Terus latihan jahit pakai mesian setelah itu baru kursus. Mudah-mudahan keinginan saya bisa terkabul. Amien...